Tak Ada Cinta di Bangsal Ini (Nusantaranews.co, 11032018)

Dari papan penanda di ujung dipan, kudapati ia bernama Cindy. Kebetulan ia mirip aktris Cindy Fatika Sari. Hidungnya bangir seperti orang Arab. Kedua alisnya tajam dan tebal seperti orang Minang. Kulitnya kuning langsat, mulus bak pualam. Aku kerap mengerling ke arah dadanya. Meski kerap ditutupi selimut, gundukan itu membuntal menggoda. Aku perhatikan ia hanya didampingi seorang lelaki, mungkin pamannya. Sesekali beberapa kawan datang membesuk Cindy, tetapi jumlahnya tidak banyak.

Iklan

Piknik Toserba (Lampung Post, 01072018)

Demi puluhan tunggakan yang mencekik; demi ratusan persanggamaan hampa di sepertiga malam; demi anak-anak yang kian hari kian sulit dimengerti; demi para dewa (dewa di langit, dewa di bumi, dewa bermesin), kehidupan kami masih mendamba salah satu pelarian orang-orang zaman kalian: berpiknik, lari sejenak dari segala dan semua yang membebani diri.

Persekusi dan Kohesi Sosial

Peristiwa nahas yang dialami Biksu Mulyanto merupakan bentuk tirani mayoritas. Adalah konyol jika kelompok mayoritas di Legok sana melarang orang untuk mengadakan kegiatan keagamaan di rumah, sementara umat muslim bisa begitu nyaman beribadah di manapun—mulai dari masjid, musala, rumah pribadi, hingga tempat-tempat publik seperti Monas.